Napi Lapas Kelas III Labuha Bentrok dengan Kalapas
pojoklima, Sejumlah narapidana (Napi) bentrok dengan Kepala Lapas Kelas III Labuha, Jumati pada Minggu.
Jumadi menyebut menjadi sasaran serangan sejumlah warga binaan. Ia menduga aksi ini berkaitan dengan persoalan sebelumnya.
Ia bahkan mengakui, pernah memukul dua orang Napi selama menjalankan tugasnya di Lapas Labuha. “Saya diserang dan dihantam. Ini soal dendam Napi saja ke saya. Saya selama bertugas di Lapas Labuha, cuma pukul dua orang. Saya pukul untuk mendidik atau membina,” ucap Jumadi.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu hal yang kini perlu didalami pihak Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Maluku Utara.
Tim Kanwil Ditjenpas Maluku Utara kemudian turun langsung ke Lapas Kelas III Labuha untuk meredam situasi sekaligus menggali informasi dari sejumlah warga binaan yang terlibat dalam insiden tersebut.
Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Maluku Utara, Yunus Maraden, menyampaikan, pihaknya akan memeriksa guna mengungkap fakta sebenarnya di balik bentrokan tersebut.
Menurutnya, kondisi di dalam Lapas Labuha juga tengah menghadapi persoalan lingkungan akibat musim kemarau panjang. Salah satu persoalan yang mencuat adalah keterbatasan pasokan air.
“Dampaknya banyak, termasuk air. Ternyata sumur tidak hidup, sehingga mereka (Napi) hanya berharap dari pompa air,” ungkapnya.
Sebelum bentrokan terjadi, pihak Lapas Kelas III Labuha bahkan sempat menggelar doa bersama dengan warga binaan sebagai bentuk ikhtiar menghadapi kondisi kemarau.
Namun, kondisi lingkungan yang panas ditambah persoalan keterbatasan air disebut menjadi salah satu faktor yang membuat emosi warga binaan mudah tersulut.
Meski demikian, Kanwil Ditjenpas Maluku Utara tidak hanya menyoroti kondisi warga binaan. Kinerja petugas Lapas Labuha juga disebut perlu dievaluasi, khususnya dalam aspek komunikasi antara petugas dengan warga binaan.
Cara penyampaian dan tutur kata petugas dapat memengaruhi respons psikologis warga binaan, terlebih ketika kondisi di dalam Lapas sedang sensitif.
“Mungkin cara penyampaian atau tutur kata petugas dinilai sangat memengaruhi respons psikologis warga binaan, khususnya dalam situasi yang sensitif,” tandasnya.

