Menjadi Oposisi di Zaman Tirani: Sebuah Simulasi Moral Era Firaun

Muksin Bendar.

Terkadang kita sering kali merasa aman dalam balutan sejarah, menghakimi masa lalu dengan standar moral masa kini yang begitu nyaman. Secara lantang kita mengutuk tirani Firaun dan memuja keberanian Musa. Namun, pernahkah kita bertanya dengan jujur dalam hati jika kita hidup di tepi Sungai Nil ribuan tahun lalu. Dimanakah posisi kita sebenarnya? Apakah kita benar-benar sanggup menjadi oposisi yang mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang tampak mustahil, ataukah justru menjadi barisan “orang baik” yang memilih diam karena perut yang kenyang dan stabilitas yang ditawarkan oleh sang diktator?

Bila sejenak kita melepaskan kacamata teologis dan melihat Mesir Kuno melalui lensa sosiopolitik,  menjadi pengikut Firaun bukanlah sekadar pilihan orang-orang jahat, melainkan keputusan yang sangat rasional bagi warga Mesir saat itu. Sebab, Firaun bukan hanya seorang penguasa, namun representasi dari ‘Sistem yang Berhasil’. Di bawah nakhodanya, menjadikan Mesir sebagai mercusuar peradaban dengan teknologi irigasi yang maju, arsitektur yang melampaui zaman, dan birokrasi yang menjamin distribusi logistik di tengah gersangnya padang pasir.

Bagi masyarakat awam, mengikuti Firaun berarti memilih stabilitas ekonomi, karena ada kepastian. Sebaliknya, mengikuti Musa adalah sebuah tindakan yang secara logika terlihat ‘tidak masuk akal’ atau irasional.

Narasi Mesir Kuno tersebut kini menemukan panggung barunya dalam kontestasi politik lokal seperti pilkada. Sering kali, kita diperhadapkan pada pilihan-pilihan yang menyerupai simulasi moral era Firaun.

​Di satu sisi, ada calon yang menawarkan “Stabilitas Firaun”. Mereka datang dengan narasi pembangunan infrastruktur yang masif, bantuan sosial yang melimpah, dan jaminan bahwa status quo akan tetap aman. Namun, di balik kemegahan itu mungkin ada sistem yang menindas, korupsi yang terstruktur, atau pengabaian terhadap hak-hak sipil. Memilih mereka adalah pilihan rasional bagi kelompok yang takut akan perubahan dan lebih menghargai “perut yang kenyang” daripada integritas sistemik.

Di lain sisi, menjadi “Oposisi” atau mendukung perubahan dalam pilkada sering kali menyerupai “Jalan Sunyi Nabi Musa” yang tidak menjanjikan kemewahan instan. Namun, menawarkan perbaikan etika, transparansi, dan keadilan yang mungkin terasa pahit di awal karena harus merombak kenyamanan yang sudah ada. Memilih jalan ini berarti berani menghadapi ketidakpastian demi sebuah prinsip yang lebih besar.

Manusia pada setiap era, baik zaman Firaun dan sekarang tidak ada bedanya. Hanya saja berubah wajah, bentuk, dan juga nama. Namun secara hakikat Firaun akan terus ada. Sebab, sejarah selalu berulang, dan kita harus tetap yakin seyakinnya, biidznillah Firaun dikalahkan oleh Musa karena Kuasa Allah Azza Wa Jalla.

Siapapun yang akan menjadi pemimpin itu sudah menjadi takdir, sudah tertulis di Lauhul Mahfudz, tetapi Allah SWT akan mencatat dimana kita berpihak sebagaimana dicontohkan oleh burung Pipit dan Cicak dahulu saat Nabi Ibrahim Alaihi Salam dibakar  Raja Namrud.

Di sinilah letak ujian moralnya, Firaun menawarkan kenyamanan dalam perbudakan sistemik. Sedangkan  Musa menawarkan martabat dalam ketidakpastian yang absolut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi Pojoklima.com.