Cuaca Ekstrem di Malut, KSOP Ternate Imbau Kapal Kecil Tak Melaut
pojoklima, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Ternate mengeluarkan imbauan kepada nakhoda dan pemilik armada pelayaran, tidak melaut akibat cuaca ekstrem yang melanda perairan Maluku Utara.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul rilis peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi angin kencang yang memicu gelombang tinggi dan membahayakan keselamatan pelayaran.
Kepala KSOP Kelas II Ternate, Rushan Muhammad, menjelaskan, pihaknya telah mengaktifkan saluran komunikasi cepat bersama BMKG dan para pelaku industri pelayaran guna menyebarkan informasi cuaca terkini secara berkala, Jumat (14/8).
“Kita sudah punya mekanisme pemberitahuan kepada nakhoda melalui grup komunikasi yang dibentuk BMKG. Setiap kapal yang akan berlayar diwajibkan menyusun dan menyerahkan rencana pelayaran secara matang,” kata Rushan.
Ia menekankan, kepada armada kapal kecil dan nelayan tradisional. Sebagian besar perahu nelayan kecil diketahui beroperasi tanpa Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dari KSOP karena kewenangannya berada di bawah instansi perikanan, bahkan ada pula yang berlayar secara mandiri tanpa dokumen formal.
Mengingat tingginya risiko keselamatan saat cuaca buruk, nelayan diminta tidak memaksakan diri melaut jauh dari pesisir.
“Kami mengimbau kapal-kapal kecil, terutama kapal nelayan, untuk tidak melaut dalam kondisi seperti ini. Kalaupun sangat terpaksa, batas aman operasi hanya di area terdekat, sekitar 1 hingga 2 mil dari pantai dan maksimal 10 mil,” tegasnya.
KSOP Ternate juga memastikan akan melakukan penundaan keberangkatan kapal secara serentak jika kondisi cuaca dinilai membahayakan, dengan terus berkoordinasi bersama pelabuhan tujuan seperti Manado, Bitung, Babang, Ambon, hingga Sanana.
Selain itu, imbauan lain juga terkait gelombang tinggi. Kewaspadaan terhadap potensi kebakaran kapal, langkah pencegahan ekstra ini diambil menyusul insiden kebakaran kapal feri yang terjadi dua kali di wilayah Bali dan Lombok dalam dua pekan terakhir.
Sementara kondisi kapal-kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) dilaporkan masih aman, pengawasan harian terhadap armada feri penyeberangan kini kian diperketat.
“Yang kami khawatirkan saat ini justru potensi kebakaran kapal feri, mengingat ada dua kejadian di Bali dan Lombok baru-baru ini. Ini yang sedang kami antisipasi secara ketat,” ungkapnya.
Untuk mencegah insiden serupa, inspektur dan auditor keselamatan angkutan laut KSOP Ternate diterjunkan setiap hari guna memeriksa kelaiklautan kapal. Selain itu, menyusul instruksi dari kantor pusat, audit keselamatan tambahan juga sedang dilakukan terhadap tiga unit kapal milik ASDP yang beroperasi di wilayah Ternate.

