Kondisi Jalan Buruk di Kecamatan Bacan Timur Tengah Nyaris Renggut Nyawa Seorang Bayi
pojoklima, Infrastruktur di Kecamatan Bacan Timur Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan yang buruk nyaris merenggut nyawa seorang bayi.
Kisah pilu ini dirasakan Wahyuni, warga Desa Wayatim yang hendak melahirkan kemudian dirujuk ke Puskesmas Bibinoi, Kecamatan Bacan Timur Tengah.
Bidan Pondok Bersalin Desa (Polindes) Wayatim, menceritakan kronologis kejadian yang dialami Wahyuni.
Sekitar pukul 04:30 WIT, Kamis (26/2), Wahyuni harus dibawa dengan long boat dari Desa Wayatim, namun harus terkendala di perjalanan lantaran cuaca buruk. Mereka kemudian pergi ke Desa Tomara menggunakan mobil.
“Jalur darat itu harusnya lebih cepat, tapi karena terkendala medan jalan dan sungai yang banjir, pasien melahirkan juga harus bertahan berjam-jam di tepi sungai Raim, sembari mencari bantuan lainnya,” kata Wati.
Wati menyebut, kondisi Wahyuni saat itu semakin kesakitan akibat bayi yang berada dalam rahimnya belum bisa dikeluarkan. Wati kemudian mengambil keputusan mencari bantuan di Desa Bibinoi dengan berjalan kaki melewati banjir Sungai Raim dan Sungai Bibinoi yang berjarak lebih kurng 3 kilometer.
“Saya tinggalkan pasien di mobil dengan suaminya dan supir untuk mencari bantuan di Desa Bibinoi, agar cepat pertolongan pertama di Puskesmas. Alhamdulillah saat di Bibinoi, saya menemukan Jonder, warga yang dirakit lebih tinggi untuk menyeberangi sungai,” ungkapnya.
Dengan menggunakan Jonder, kata Wati, langsung menuju sungai Raim untuk mengambil pasien.
Wati menyebut pasien dirujuk ke Puskesmas Bibinoi, karena air ketuban pasien sudah pecah. Sehingga ditakutkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Perjalanan sulit, bayi yang dilahirkan mengalami Asfiksia Neonatorum. Bayi tersebut langsung dilarikan ke Rumah Sakit Labuha untuk perawatan medis yang lebih maksimal. Sementara Wahyuni masih jalani perawatan di Puskesmas Bibinoi,” ucapnya. Ibu bayi pendarahan sehingga masih dirawat di Puskesmas,” sambung Wati.
Wati berharap pemerintah segera mengambil kebijakan untuk membuat jembatan yang memadai, sehingga bisa diakses oleh warga. Kondisi ini sering dialami warga Desa Wayatim, Tomara, Tutupa dan Tabapoma.
