Transformasi IAIN Ternate Menuju UIN: 60 Tahun Mengabdi

Dr. Kasman Hi. Ahmad, M.Pd Wakil Bupati Halmahera Utara, Alumni IAIN Ternate.

Enam puluh tahun bukan sekadar hitungan usia, melainkan jejak panjang pengabdian.

Sejak berdiri tahun 1965, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate telah menjadi mercusuar pendidikan Islam di kawasan Timur Indonesia.

Dari rahim lembaga ini lahir ribuan guru, dai, birokrat, akademisi, hingga pemimpin masyarakat yang mengabdi di Maluku Utara dan berbagai daerah Nusantara.

Kini, pada momentum Dies Natalis ke-60, IAIN Ternate berdiri di ambang sejarah baru. Bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Baabullah.

Transformasi tersebut bukan sekadar perubahan nama institusi, melainkan perubahan paradigma keilmuan, tata kelola, dan kontribusi terhadap pembangunan daerah.

Selama enam dekade, kampus ini telah melewati tiga fase penting. Menjadi bagian dari IAIN (filial) Alauddin Ujung Pandang, Fakultas Tarbiyah, berubah menjadi STAIN Ternate pada 1997, lalu beralih menjadi IAIN Ternate pada 2014.

Setiap fase menunjukkan kemampuan lembaga beradaptasi terhadap tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat Maluku Utara.

Perubahan kelembagaan, dalam pendidikan, merupakan proses institusionalisasi yang memperluas fungsi sosial perguruan tinggi.

Universitas menurut Burton R. Clark (1983), tidak hanya bertugas mentransmisikan ilmu, tetapi juga menjadi pusat produksi pengetahuan dan agen perubahan sosial.

Karena itu, transformasi IAIN menuju UIN Sultan Baabullah, berarti memperluas mandat akademik dari pendidikan keagamaan menuju integrasi ilmu-ilmu agama, sains, teknologi, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

Indonesia dan Maluku Utara hari ini menghadapi tantangan yang kompleks.

Di satu sisi, negeri dan provinsi ini menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi nasional melalui industri pertambangan nikel.

Namun di sisi lain, ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, konflik agraria, dan kebutuhan peningkatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi pekerjaan besar.

Kehadiran UIN Sultan Baabullah diharapkan menjadi jawaban akademik atas persoalan tersebut dengan membuka disiplin ilmu baru yang relevan terhadap kebutuhan daerah.

Menteri Agama bahkan mendorong pengembangan program studi berbasis kebutuhan Maluku Utara, termasuk bidang teknik pertambangan dan penguatan pembangunan di Sofifi sebagai ibu kota provinsi.

Nama Sultan Baabullah sendiri mengandung makna historis yang mendalam.
Ia bukan hanya penguasa Kesultanan Ternate abad ke-16, tetapi simbol kedaulatan, ilmu pengetahuan, dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Menjadikan namanya sebagai identitas UIN Sultan Baabullah berarti meneguhkan karakter kampus yang berakar pada sejarah lokal namun berpandangan global.

Identitas ini penting, agar modernisasi pendidikan tidak tercerabut dari kebudayaan masyarakat kepulauan.

Perjalanan menuju UIN Sultan Baabullah tentu tidak berlangsung mudah. Salah satu tantangan terbesar ialah pemenuhan persyaratan kelembagaan, mulai dari jumlah mahasiswa, penguatan sumber daya dosen, hingga peningkatan akreditasi program studi.

Dalam beberapa tahun terakhir, IAIN Ternate berhasil membuka Program Doktor, memperbanyak program studi berakreditasi Unggul, serta memperkuat kapasitas guru besar sebagai fondasi kualitas akademik.

Upaya tersebut menjadi modal utama dalam memenuhi standar transformasi perguruan tinggi keagamaan negeri.

Rektor IAIN Ternate, Dr. Adnan Mahmud, pernah menegaskan, transformasi menjadi UIN Sultan Baabullah merupakan tanggung jawab moral kepada sivitas akademika dan masyarakat Maluku Utara.

Baginya, perubahan status bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Komitmen tersebut juga memperoleh dukungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang memasukkan IAIN Ternate dalam skema prioritas transformasi PTKIN menuju UIN periode pembangunan nasional.

Secara konseptual, gagasan integrasi ilmu yang menjadi ruh UIN Sultan Baabullah, memiliki landasan kuat dalam pemikiran Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Al-Attas menegaskan, krisis pendidikan modern muncul ketika ilmu dipisahkan dari nilai dan adab, sehingga universitas Islam harus mengintegrasikan pengetahuan dengan pembentukan manusia yang berakhlak (Al-Attas, 1995).

Dengan demikian, UIN Sultan Baabullah tidak hanya mencetak lulusan yang kompeten secara profesional, tetapi juga memiliki integritas moral dan tanggung jawab sosial.

Era masyarakat jaringan menuntut universitas menjadi simpul inovasi yang menghubungkan pengetahuan, teknologi, pemerintah, dan masyarakat (Castells, 2010).

UIN Sultan Baabullah dalam konteks Maluku Utara, memiliki peluang besar menjadi pusat riset kepulauan, mitigasi bencana, ekonomi maritim, rempah, keberagaman budaya, hingga transisi energi yang berkeadilan.

Posisi geografis Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan justru dapat menjadi keunggulan komparatif dalam menghasilkan pengetahuan yang khas Indonesia Timur.

Karena itu, perayaan 60 tahun IAIN Ternate sejatinya adalah perayaan harapan.

Harapan para pendiri yang meletakkan batu pertama pendidikan Islam di tanah Moloku Kie Raha; harapan para dosen yang mengabdikan hidupnya di ruang-ruang kuliah; harapan para alumni yang membawa nama baik almamater di berbagai profesi; dan harapan generasi muda yang mendambakan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Baabullah unggul di negerinya sendiri.

Transformasi menuju UIN Sultan Baabullah adalah ikhtiar kolektif. Ia memerlukan dukungan pemerintah, masyarakat, alumni, dunia usaha, dan seluruh sivitas akademika.

Sebab universitas besar tidak dibangun oleh gedung semata, tetapi oleh gagasan, tradisi ilmiah, dan semangat pengabdian yang diwariskan lintas generasi.

60 tahun telah membuktikan, IAIN Ternate bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan rumah peradaban.

Kini saatnya melangkah lebih jauh. Dari kampus yang mengabdi menjadi UIN Sultan Baabullah yang memimpin perubahan bagi Maluku Utara, Indonesia Timur, dan dunia Islam.[]

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi Pojoklima.com.