Birokrasi yang Toksik

Oleh M. Imron Kadir.

Editor Buku Lost Generation: Potret Kegagalan Negara. Bekerja di Humas Unkhair.

Sore itu saya terbangun dari tidur singkat di kebun Ngade. Angin dari arah Danau Ngade bergerak pelan, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang menua. Saya menjerang air, menyeduh kopi, menyeruputnya perlahan. Di antara uap yang terangkat dan langit yang mulai temaram, pikiran saya melayang pada sebuah buku kiriman seorang kawan lama, Richard A. Suprianto.

Ia alumnus Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia, dan pernah memimpin Jakmania.

Suatu malam saya melihatnya di layar tvOne, berbicara tentang dinamika pemain Persija Jakarta yang hendak direkrut pelatih. Saya menggodanya lewat pesan singkat, “Bang Ketum, bisa kirim saya buku tentang toksik?” Ia membalas dengan tawa. Beberapa hari kemudian, sebuah paket tiba, buku berjudul “Tetap Waras di Tengah Orang Toksik.”

Saya membaca judulnya berulang-ulang. Ada ironi yang tak bisa saya abaikan. Kata toxic secara harfiah berarti beracun, lahir dari laboratorium, simbol tengkorak dan peringatan bahaya. Kini kata itu lebih sering hadir dalam percakapan sosial tentang relasi yang melukai, lingkungan yang menyesakkan, hingga sistem yang menggerogoti kewarasan secara perlahan.

Kita menyebut seseorang “toksik” ketika ucapannya merendahkan. Kita menyebut hubungan “toksik” ketika kuasa menyingkirkan empati. Kita menyebut lingkungan kerja “toksik” ketika profesionalitas berubah menjadi arena intrik dan kompetisi tak sehat.

Namun racun paling berbahaya tak selalu datang dengan teriakan. Tapu justru hadir dalam sistem yang tampak tertib, bahkan legal.

Di birokrasi, racun itu sering bernama ketimpangan yang dilembagakan. Ada yang tak menunjukkan produktivitas berarti, tetapi menikmati kesejahteraan relatif besar karena memegang jabatan tertentu, fungsional misalnya . Ada pula yang tak memiliki jabatan fungsional, namun memikul beban teknis dan administratif yang tak pernah tercatat utuh dalam laporan.

Target kinerja pegawai dinilai atasan yang sejatinya tahu mutu kerja bawahannya. Tetapi penilaian kerap berjalan formalistik, angka-angka rapi, tanda tangan lengkap, tanpa keberanian moral untuk jujur. Semua tampak baik-baik saja. Padahal rasa keadilan makin menjauh.

Di sudut lain, ada pegawai yang merasa cukup datang lebih awal, menyalakan komputer, mengisi presensi, lalu menunggu jam pulang tanpa kegelisahan. Selama tunjangan kinerja tak terpotong, rasa aman dianggap terpenuhi.

Kehadiran menjadi simbol kesetiaan. Angka menjadi ukuran dedikasi, pengabdian. Integritas perlahan direduksi menjadi kepatuhan administratif.

Di situlah racun bekerja paling efektif bukan lewat kekacauan, melainkan lewat kenyamanan semu. Orang tak lagi bertanya apakah pekerjaannya bermakna, melainkan apakah tunjangan tetap aman.

Sosiolog Jerman, Max Weber, pernah membayangkan birokrasi modern sebagai bangunan rasional berbasis meritokrasi, pembagian peran yang jelas, penghargaan yang melekat pada fungsi. Jabatan bukanlah privilese, melainkan fungsi.

Reformasi bukan sekadar penyederhanaan prosedur, tetapi peneguhan keadilan struktural.

Namun, ketika merit berhenti menjadi prinsip dan berubah menjadi formalitas administratif, penghargaan tak lagi sebanding dengan beban kerja atau tanggung jawab, profesionalitas direduksi menjadi kelengkapan dokumen, maka toksisitas tak terelakkan. Ia tidak meledak, namun mengendap.

Produktivitas tetap berjalan, dokumen ditandatangani, dan pelayanan publik tetap berlangsung. Tetapi semangat perlahan menguap, seperti sisa uap kopi di cangkir sore itu di Ngade.

Buku kiriman kawan saya, bang Richard, berbicara tentang cara bertahan di tengah individu-individu toksik. Pengalaman birokrasi mengajarkan sesuatu yang lebih getir, kadang yang toksik bukan orangnya, melainkan sistem yang membentuknya. Sistem yang lebih takut pada potongan tunjangan daripada pada hilanganya makna kerja.

Racun paling berbahaya bukan yang mematikan seketika. Tapi yang membuat orang perlahan berhenti percaya bahwa kerja keras masih berarti.

Dan ketika kepercayaan itu hilang, birokrasi tak lagi sekadar kehilangan efisiensi, melainkan pula kehilangan ruhnya.

Senja di Ngade kian gelap. Kopi tinggal ampas. Saya menutup buku itu perlahan, dengan satu pertanyaan yang tak juga selesai, bagaimana tetap waras jika racun bekerja dalam diam, dan telah lama kita menganggapnya sebagai kewajaran?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi Pojoklima.com.