𝗦𝗮𝗹𝗮𝗺 & 𝗦𝗵𝗼𝗹𝗮𝘄𝗮𝘁 S𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗙𝗿𝗲𝗸𝘂𝗲𝗻𝘀𝗶 𝗞𝗼𝗻𝗲𝗸𝘀𝗶 𝗗𝗶𝗿𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗩𝗮𝗹𝗶𝗱𝗮𝘀𝗶 𝗦𝘆𝗮𝗳𝗮𝗮𝘁

Muksin Bendar.

𝑏𝘺. 𝑈𝘤𝑖𝘯𝑡

Dalam bentang semesta yang maha luas, manusia sering kali merasa terasing dan kehilangan arah. Namun, dalam tradisi Islam, kita dianugerahi dua instrumen resonansi yang luar biasa, yaitu salam dan sholawat.

Keduanya bukan sekadar rangkaian kata tanpa makna, melainkan sebuah “frekuensi” yang menghubungkan hamba dengan Sang Pencipta melalui jalur kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Kita sering menyampaikan, mari kita mengirimkan salam dan sholawat. Namun yang dilakukan setelahnya hanyalah bersholawat tanpa mengirimkan salam. Begitu juga terkadang tampil penceramah pada berbagai kegiatan keagamaan, selalu mengajak jamaah, marilah kita mengirimkan salam dan sholawat kepada Baginda Rasulullah. Selanjutnya, serentak melanjutkan dengan ucapan Allahumma Sholli Ala Syaidina Muhammad. Tentu dalam hal ini yang diucapkan hanya bersholawat dan melupakan yang salam.

Padahal, salam juga memiliki kedudukan yang sama. Makanya dalam sholat (tahiyat/tasyahud), yang didahulukan adalah salam “Assamualaika Ayyuhannabiu Warahmatullahi Wabarakatu,” barulah dilanjut dengan Allahumma Sholli Ala Syaidina Muhammad.

Pertanyaan kemudian, apa bedanya salam dan sholawat? Sederhananya, salam adalah koneksi. Sedangkan sholawat adalah syafaat. Dimana 𝙎𝙖𝙡𝙖𝙢 adalah mempertemukan seorang yang cinta dan yang dicintai, dan 𝙎𝙝𝙤𝙡𝙖𝙬𝙖𝙩 adalah diberikannya hadiah untuk yang bersholawat kepada yang dicintainya.

Terhadap kedua hal penting ini, sedapat mungkin janganlah ditinggalkan salah satunya. Sebelum kita mengirimkan sholawat kepada Baginda Rasulullah, sedianya terlebih dahulu koneksikan diri kita dengan Rasulullah, dengan mengucapkan Salam ” Assamualaika ya Rasulullah atau Assamualaika ya Nabi Allah; Assalamualaika ya aba baruk; Assalamualaika ya Taha; dan Assamualaika ya sin”.

Dua bentuk ucapan salam yang disebut terakhir merupakan nama rahasia Rasulullah. Untuk itu para ulama ketika salawatan dilantunkan, Salatullah Salamullah Ala Taha Rasulillah dan Salatullah Salamullah Ala Yasin Habibillah. Sedangkan oleh para Ma’rifatullah, bila ingin memimpikan Rasulullah, dianjurkan perbanyak amalan dengan kedua nama tersebut.

Sebagai penutup, jadikanlah salam dan sholawat sebagai gaya hidup. Sehingga diri tetap berada dalam “area jangkauan” rahmat Allah. Ketika lisan dan hati konsisten berada pada frekuensi ini, validasi syafaat bukan lagi sekadar harapan, melainkan sebuah kepastian koneksi yang tak terputus hingga keabadian.

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” Sebuah janji validasi balik yang melipatgandakan energi kebaikan dalam hidup kita.

 

𝗦𝗮𝗹𝗮𝗺 🙏

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi Pojoklima.com.