Di Babula Kafe, Cerita dan Spirit Jurnalisme Mengalir
Sinar matahari sore jatuh miring di kaca jendela Babula Kafe Jambula, memantulkan rona hangat yang menenangkan. Di sudut ruangan yang ramai oleh perbincangan santai itu, tampak sekelompok mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maluku Utara tengah bersiap memulai perjalanan baru dalam dunia jurnalistik yang mereka impikan.
Pada Sabtu (29/11) yang cerah itu, UKM Jurnalistik UMMU resmi menggelar orientasi dan pembekalan reporter untuk media pembelajaran mereka, socdempost.id. Jika jurnalisme pernah digambarkan sebagai kerja sunyi yang penuh jejak langkah di lorong-lorong fakta, pertemuan di Babula Kafe ini memperlihatkan sisi lain. Yaitu sebuah ruang belajar yang hidup, penuh cerita lapangan, kegaguman, dan energi muda yang ingin masuk ke dunia pers dengan cara yang bermartabat.
Hadir pemateri utama Burhan Ismail, memaparkan materi teknik wawancara dan bercerita tentang jejak penjang dari lapangan investigasi. Direktur Pojoklima.com dan Psokomalut.com tersebut datang dengan aura khas jurnalis lapangan; sederhana, lugas, namun membawa segudang kisah di balik senyum tenangnya. Di hadapan peserta, ia tak sekadar memberikan materi, tetapi juga membawa pengalaman bertahun-tahun menelusuri peristiwa, data, dan percakapan-percakapan penting yang tak selalu mudah ditemui.
Dalam sesi teknis wawancara, Burhan mengajarkan hal-hal yang sering luput dari buku panduan. Yaitu membaca jeda, mendengarkan napas narasumber, dan menggali cerita hingga menemukan inti yang tak terlihat mata.
“Wawancara itu bukan kejar-kejaran dengan waktu, tapi keberanian untuk mendekati kebenaran,” ujarnya sambil menceritakan pengalamannya mengerjakan liputan investigasi di berbagai wilayah Maluku Utara.
Para peserta menyimak, sesekali mencatat, sesekali tersenyum ceria mendengar cerita-cerita yang biasanya hanya hadir dalam ruang redaksi, seperti ancaman halus, narasumber yang berubah nada, hingga temuan fakta yang mengubah alur pemberitaan.
Materi berikutnya “Dasar-dasar Jurnalisme dan Etika Jurnalis”. Dibawakan oleh Faujan A. Pinang, Direktur Indotimur.com sekaligus Ketua KONI Kota Ternate. Berbeda gaya dengan Burhan, Faujan hadir dengan pembawaan tenang namun profresif, setiap kalimatnya terukur, namun mengalir sebagai pengingat tentang apa yang membuat jurnalisme tetap bernilai, yaitu etika.
Faujan menjelaskan dasar-dasar jurnalistik dengan bahasa yang akrab, lalu menambahkan pengalaman-pengalaman peliputan yang memberi warna pada profesi ini. Ia menekankan bahwa jurnalis bukan hanya penulis berita melainkan penjaga akal sehat publik.
“Di tengah informasi yang makin bising, jurnalis harus menjadi suara yang jernih,” ucapnya.
Para peserta tampak mengangguk, seakan menemukan kembali alasan mengapa mereka memilih jalan ini.
Ketua UKM Jurnalistik UMMU, Retno Kartika Aljogdja, menjelaskan bahwa agenda orientasi ini tidak sekadar tentang pelatihan. Ia sebagai pintu awal bagi mahasiswa untuk memahami jurnalisme sebagai gerakan intelektual.
“Kami ingin memastikan anggota baru memahami visi UJ, memahami peran media kami, dan mengenali tanggung jawab moral di balik setiap berita,” ujarnya.
Socdempost.id, yang menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa, bukan sekadar portal berita kampus. Ia dirancang sebagai media alternatif yang kritis, terbuka terhadap ide-ide progresif, sekaligus memberi ruang bagi analisis sosial yang jernih.
Pembina UKM Jurnalistik UMMU, Rahmat Abd Fatah, menegaskan bahwa socdempost.id dikelola langsung oleh mahasiswa, tetapi menyimpan idealisme yang jauh lebih besar dari sekadar ruang praktik. Media ini mengusung spirit demokrasi sosial, yakni keyakinan bahwa ruang publik harus berisi informasi yang memerdekakan pikiran, bukan sekadar menghibur.
“Visi ini mencakup beberapa prinsip yang ingin dibangun secara perlahan oleh para mahasiswa. Yaitu memperkuat budaya literasi kritis di kalangan generasi muda Ternate; mendorong peliputan yang berkeadilan dan sensitif terhadap keragaman sosial Maluku Utara; menghadirkan jurnalisme yang mencerahkan, etis, dan bebas dari tekanan kelompok kepentingan; serta menjadi ruang edukasi politik publik yang santun, berkeadaban, dan menghargai martabat warga.”
Rahmat menegaskan bahwa jurnalisme yang dijalankan mahasiswa bukan hanya latihan keterampilan teknis, tetapi latihan berpikir, berdialog, dan memahami fungsi pers sebagai penjaga demokrasi.
“Socdempost.id adalah laboratorium etika dan intelektualitas. Kami menginginkan mahasiswa tumbuh sebagai penulis yang jujur, kritis, dan peka pada problem sosial. Itu cara kecil kami menjaga demokrasi lokal tetap bermartabat,” ungkapnya.
Dan ketika jarum jam melewati pukul 17.30, suasana di Babula Kafe masih terasa hangat. Para peserta belum langsung beranjak. Mereka berkumpul dalam kelompok kecil, berdiskusi, memeriksa catatan, atau sekadar mendiskusikan tugas peliputan cerita-cerita para pemateri.
Di balik secangkir kopi dan buku catatan yang terlihat penuh coretan, lahirlah harapan bahwa dari UJ UMMU generasi baru jurnalis akan tumbuh dengan karakter kritis, berani, beretika, dan tidak kehilangan nurani. Sebuah langkah awal untuk membangun jurnalisme sosial-demokratis yang berkeadaban di Maluku Utara. [Irawan Nasri]
