Unkhair Ternate Turunkan Drone Bawah Air dan DJI Mavic Cari Dr. Wildan
pojoklima, Hari ke tiga pencarian Dr. Wildan, dosen Universitas Khairun (Unkhair) yang hilang pascakecelakaan PM Indriyani di perairan Bibinoi belum membuahkan hasil.
Di titik awal kejadian, kedalaman yang diperkirakan mencapai 80 meter, tim Unkhair menurunkan drone bawah air dan menerbangkan drone udara DJI Mavic.
Perangkat teknologi itu menjadi perpanjangan mata manusia, mencoba menembus ruang laut yang gelap dan berisiko, tempat kemungkinan terakhir keberadaan korban.
Ketua Tim Unkhair, Dr. M. Ridha Ajam, mengungkapkan, drone bawah air digunakan untuk membaca kondisi dasar laut yang tak memungkinkan dijangkau penyelaman manual. Sementara dari udara, DJI Mavic menyisir permukaan laut dan garis pantai, memperluas pandangan ke wilayah yang tak terjangkau dari dek kapal.
“Gelombang tinggi dan cuaca yang memburuk memaksa pencarian di bawah permukaan laut dihentikan sementara. Kedalamannya cukup ekstrem dan berisiko jika menyelam langsung. Gelombang yang tinggi, operasi kami hentikan sementara dan akan dilanjutkan esok hari,” ucap Dr. Ridha, Minggu (26/1/26).
Lokasi pencarian pun bervariatif, misalnya Kapal pengawas KPLP yang membawa mantan Rektor Unkhair Dr. M. Ridha Ajam, Wakil Rektor III Abdul Kadir Kamaluddin, serta Muhammad Fauzi Andi Mattra, anak ketiga Dr. Wildan. Bersama, mereka menyusuri perairan Saketa dan sekitarnya.
Di sisi lain, rubber boat Basarnas Halsel dengan lima personel dan Polairud menyisir perairan Desa Sayoang.
Sementara bodi masyarakat yang membawa tim Unkhair, aparat kepolisian, dan warga bergerak ke selatan, menjangkau perairan Tutupa, Tabapoma, hingga Tomara.
Dalam pencarian juga melibatkan rubber boat BNPB Halsel yang diawaki unsur TNI AL, AD dan Polres Halmahera Selatan.
Sementara rubber boat Marnit Polairud Bacan membawa tiga personel Polairud bersama Yadzali Andi Mattara, anak kedua korban, menyisir perairan Desa Lemo-Lemo, Kecamatan Gane Barat.
Di perairan Tomara, pencarian dipimpin Babinsa Desa Bibinoi Sertu Yunias Loleo, bersama lima personel Basarnas.
Komandan Unit Basarnas Halsel, Husen Abubakar, mengatakan pada hari ketiga pencarian, angin kembali menguat sekitar pukul 15.30 WIT, cuaca memburuk, memaksa seluruh tim menghentikan pencarian. Operasi sementara ditutup sekira pukul 17.00 WIT.
Hari berikutnya, kata Husen, pencarian akan dilanjutkan dengan penyisiran permukaan laut sesuai prosedur, menyesuaikan arah arus dan kondisi cuaca. Imbauan juga kembali disampaikan kepada masyarakat dan kapal-kapal yang melintas agar segera melapor bila menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
