Tete Ali & Komunikasi Empatik di Media Sosial
Oleh : Makbul A.H Din
Komunikasi empatik merupakan bentuk komunikasi yang didasarkan pada kemampuan untuk memahami, merasakan, dan menghargai perasaan orang lain. Di media sosial, komunikasi empatik berarti menyampaikan pesan secara sadar, bijak, dan penuh pengertian meskipun berinteraksi melalui teks, gambar, atau video. Tujuanya adalah untuk mengurangi konflik, terutama mencegah kesalahpahaman akibat keterbatasan ekspresi non-verbal. Membangun kepercayaan, membuat interaksi terasa lebih manusiawi dan hangat, serta bagaimana menciptakan ruang positif membantu media sosial menjadi sarana yang sehat, bukan toxic.
Sebuah fenomena menarik dan lagi viral di medsos, Tete Ali dengan ciri khas bahasa mumaki (cacian) kepada orang disekitar yang selalu memancing emosinya. Kata-kata Tete Ali seperti, mohon maaf, “cukim mai” “ngoni pe…(menyebut alat kelamin Laki-laki), tentu dengan penuh emosional. Komunikasi semacam ini seperti sebuah lagu “mulanya biasa saja, tak pernah kubayangkan,” lama-lama viral juga dan menjadi bahan tontonan publik. Bahkan Tete Ali ke Ternate, bak pahlawan. Ia dijemput, disugukan tarian soya-soya, nginapnya juga di penginapan atau hotel. Sayangnya komunikasi tete Ali mengundang beragam pandangan antara pro dan kontra.
Misalnya, seorang dosen komunikasi IAIN Ternate berpandangan “Tete Ali sebagai sebuah fenomena atas kejenuhan terhadap komunikasi kita yang penuh pura-pura dan mengutamakan citra, serta menyembunyikan kelicikan. Ungkapan kasar, makian dan nada penuh emosi, kerap lahir sebagai bentuk kejujuran emosional Tete Ali terhadap kepalsuan, sopan santun yang hanya basa basi untuk menutupi tabeat buruk kita.” Pandangan rekan dosen ini seakan menunjukkan pada kita yang sering juga berkomunikasi kasar, penuh intimidasi, saling menyerang, bahkan prilaku koruptif, prilaku tak bermoral, yang kita pertontonkan kepada publik. Tak malu-malu para pejabat, pengusaha, juga politisi misalnya mempertontonkan prilaku destruktif di media sosial. Pernyataan elit yang kotor semisal guru beban negara, pembubaran DPR itu prilaku tolol, pemblokiran rekening nasabah bank, tanah 2 tahun tidak digarap disita negara, dan sederet pernyataan dan kebijakan yang mengundang kontroversi. Mulut kotor para elit, dibandingkan seorang tete Ali, tidak seberapa, emosionalnya didesain, dibuat, dipancing, dan akhirnya keluar kata-kata yang kasar, penuh makian, dan ini justru menarik perhatian serta menjadi bahan tontonan. Dengan komunikasi kacar penuh cacian justru Tete Ali menjadi popular. Dari dinamika ini, ada dua hal yang ingin saya katakan bahwa:
Pertama, di era digital, media sosial telah menjadi ruang publik baru di mana miliaran orang berinteraksi, berbagi, dan berdebat. Namun, sering kali interaksi kita dipenuhi dengan miskomunikasi, kesalahpahaman, dan bahkan agresi, yang sebagian besar berakar pada kurangnya komunikasi empatik. Keterampilan yang seharusnya menjadi fondasi interaksi manusia ini seolah tenggelam di balik anonimitas dan kecepatan platform digital.
Kedua, bahwa Prinsip-prinsip komunikasi yang efektif dan empatik, sejatinya sangat relevan untuk diaplikasikan di media sosial, malah sebaliknya. Rizqiyah et al. (2025) menyebutkan bahwa kita semua perlu memiliki kemampuan “membimbing secara empatik”. Prinsip ini dapat kita perluas ke dalam interaksi online. Alih-alih langsung menghakimi atau menyerang, pengguna media sosial perlu belajar membimbing percakapan ke arah yang konstruktif dengan berusaha memahami sudut pandang orang lain. Empati adalah jembatan yang memungkinkan kita melihat di luar teks dan mencoba merasakan apa yang mungkin dirasakan orang di balik layar.
Penggunaan teknologi komunikasi seharusnya bersifat fungsional, namun, “jika interaksi yang terjadi justru merusak hubungan, menyebarkan kebencian, atau melukai perasaan? Padahal fungsionalitas teknologi harus mencakup kemampuannya untuk membangun komunitas yang sehat, yang hanya bisa dicapai dengan komunikasi yang santun dan efektif. Ini berarti, saat berinteraksi di media sosial, kita harus berkomunikasi seolah-olah kita berbicara secara langsung, dengan mempertimbangkan perasaan dan pandangan orang lain. Esensi dari komunikasi empatik dan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab adalah pesan universal. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menyadari bahwa literasi digital tidak hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga literasi emosional dan sosial. Mengembangkan komunikasi empatik di media sosial adalah langkah penting untuk mengubah platform digital menjadi ruang yang lebih manusiawi, di mana komunikasi dapat berjalan tanpa prasangka dan hubungan yang dapat dibangun dengan rasa saling menghargai.
Apakah fenomena Teta Ali menjadi roblem komunikasi kita? Tentu kita harus melihat secara terbuka. Bagi komunitas pendidik (guru), ulama, para Kiyai, bahkan Sebagian dosen, hal ini menunjukan kemampuan kita masih kurang dalam melakukan “bimbingan secara empatik”, kita seakan melegitimasi komunikasi makian, kasar dan penuh emosional, padahal disisi lain hal ini akan merusak moralitas anak-anak sekolah sebagai generasi penerus yang menyaksikan hal ini lewat medsos. Ketidak setujuan terhadap para elit, para politisi, atau yang lainnya tentu tidak dengan jalan membenarkan kata-kata “makian, kasar dan penuh emosional”, tanpa ini saja anak sekolah sudah sering berkata kasar kepada guru dan orang tua mereka. Saatnya kita menyadari bahwa literasi digital tidak hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga literasi emosional, etika, moralitas dan sosial. Alangkah eloknya, jika teta Ali disaat emosi tidak menggunakan kata-kata, maaf, “cukikim-mai” yang tentu bermakna negatif, termasuk makian/cacian pada rekan-rekan teta Ali yang selalu menyulut emosinya dengan menyebut “alat kelamin mereka’. Jika demikian, maka tete Ali dan rekan-rekannya mempraktekkan “komunikasi yang kurang empatik”, sementara kita berempati pada hal-hal yang tidak seharusnya.
Jika demikian, boleh kita katakan bahwa komunikasi empatik dalam Masyarakat kontemporer dewasa ini hampir menemui ajalnya. Ketika kita semua mengkomunikasikan persoalan personal, kelompok, dan organisasi, sering terjadi salah persepsi, hal ini bisa terlihat antara dosen dengan mahasiswa, dalam konteks akademiknya, dan lainnya. Baudrillard menyebutkan “kita berada dalam semesta yang begitu melimpah informasi, tetapi begitu hampa makna.” Jadi komunikasi empati, berarti kita semua memiliki kesadaran memahami dengan perasaan, peduli dan perhatian terhadap komunikasi tete Ali, dan kita wajib memperbaiki komunikasi dan empati kita. Disebutkan terakhir mengindikasikan bahwa berempati itu penting guna terbangun understanding (kesepahaman) dalam memaknai komunikasi. Namun kita juga memiliki patokan nilai dan norma yang menjadi contoh dalam menginternalisasikan kepada generasi kita sebagai pelanjut estafet ke depan. Protes pada ketidak-benaran dan ketidak-becusan, dengan melegitimasi dan menganggap absah prilaku emosional, disertai makian juga tidak dibenarkan.
Komunikasi penuh “emosi dan makian” tete Ali sekilas tidak menyakiti orang lain, karena bukan-siapa-siapa yang ia maki, ini refleksi atas emosional yang bersangkutan ketika dipanas-panasi, disulut emosinya. Namun makian itu tujuannya pada jenis kelamin “Perempuan sebagai anak gadis, atau seorang ibu, yang tentu kurang tepat.” Alangkah eloknya jika tete Ali diberi kesadaran berkomunikasi dalam kontensnya di youtube (medsos), sehingga menghilangkan kata-kata kasar penuh makian dengan kata yang lain yang lebih elegan. Dan ini adalah tanggung jawab kita semua, Lembaga Pendidikan, media massa, termasuk guru, dosen, orang tua, sehingga control terhadap hal-hal dianggap destruktif bisa kita hindari. Semoga bermanfaat.