Kuliah Umum Tematik Sukses Diselenggarakan

M Irsyad PojokLima M Irsyad
Aji Deni & Peserta Kulia Umum

TERNAT-pl.com, Mahasiswa Program Studi Bersama Dosen Mata Kuliah Pemikiran Politik Indonesia Dr. Aji Deni, S.Pd., M.Si  sukses menggelar kuliah umum tematik yang menarik dengan tema “Hegemoni Politik Struktural di Era Otonomi Daerah.” Acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang konsep hegemoni politik struktural dan bagaimana dampaknya memengaruhi masyarakat secara luas. Kuliah umum tematik ini dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Politik FISIP UMMU.

Kuliah umum tematik ini diisi oleh dosen Mata kuliah “Pemikiran Politik Indonesia”. Topik ini sangat relevan dalam konteks sosial dan politik saat ini. Beliau juga mengungkapkan harapannya bahwa kuliah umum tematik ini diharapkan memberikan wawasan baru bagi para peserta kuliah untuk lebih memahami tantangan yang dihadapi dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan inklusif. Dr. Aji Deni,S.Pd., M.Si membahas konsep hegemoni politik struktural dengan mengacu pada teori-teori dari Gramsci, Poulantzas, Marx, Weber, dan Lukes. Dia menjelaskan tentang kontrol ideologis, pengaruh dalam kebijakan publik, dominasi ekonomi, penguasaan institusi, dan legitimasi melalui persetujuan masyarakat sebagai elemen-elemen kunci dari hegemoni politik struktural. Beberapa contoh konkret dari berbagai negara dan konteks, termasuk pemerintahan totaliter, korporatisme, kolonialisme, dan neoliberalisme. Dia membahas dampak dari hegemoni politik struktural seperti ketimpangan sosial dan ekonomi, marginalisasi kelompok rentan, pembatasan demokrasi, dan penindasan budaya.

Setelah presentasi, ada sesi tanya jawab yang sengit antara narasumber dan peserta. Mahasiswa mengajukan pertanyaan yang mendalam tentang implikasi praktis dari konsep-konsep yang dibahas dalam kuliah umum. Diskusi ini memberikan ruang bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana masyarakat dapat berperan dalam mengatasi tantangan yang dihadapi. Kuliah ini sukses, memberikan wawasan yang mendalam tentang konsep-konsep yang kompleks namun relevan dalam konteks sosial dan politik saat ini. Acara ini juga memperkuat peran Dosen dalam mendidik mahasiswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Salah satu Mahasiswa Nurul Sintia bertanya, “Mengapa ada hegemoni kekuasaan politik struktural di era otonomi daerah padahal demokrasi yang kita pakai adalah demokrasi yang egaliter?” Dijawab, Benar bahwa demokrasi pada dasarnya mengusung prinsip kesetaraan, namun dalam prakteknya, faktor-faktor seperti uang, kekuasaan, dan akses terhadap sumber daya politik seringkali menjadi penentu dominasi politik.

Di era otonomi daerah, fenomena hegemoni politik struktural dapat terjadi karena kekuasaan masih terkonsentrasi di tangan kelompok oligarkis atau politik pragmatis yang memiliki sumber daya dan jaringan politik yang kuat. Dalam konteks ini, meskipun demokrasi secara formal ada, namun proses politik yang sesungguhnya masih dipengaruhi oleh dominasi kekuasaan tertentu, yang pada akhirnya menghasilkan ketidaksetaraan dan hegemoni politik yang tidak selalu mencerminkan prinsip egaliter demokrasi. Mahasiswa lainnya, Ilman Umarama, bertanya tentang faktor-faktor spesifik yang menyebabkan dominasi politik oleh kelompok oligarkis di era otonomi daerah. Faktor-faktor tersebut meliputi kontrol terhadap sumber daya ekonomi dan politik di wilayah tertentu, jaringan politik yang kuat, dan juga pengaruh dari kebijakan nasional yang memperkuat posisi kelompok oligarkis.

Selain itu, Rifaldi Yusnan mengajukan solusi agar masyarakat sipil dapat berkontribusi dalam menghadapi hegemoni politik struktural di tingkat daerah dengan cara memperjuangkan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi dalam proses politik. Dengan meningkatkan kesadaran politik dan mendukung lembaga-lembaga independen, masyarakat sipil dapat menjadi agen perubahcara an yang kuat. Aji Deni menambahkan bahwa salah satu langkahnya adalah dengan memperjuangkan prinsip demokrasi substansial, di mana partisipasi politik yang lebih merata dan keadilan dalam distribusi sumber daya politik menjadi fokus utama. Selain itu, memperkuat lembaga-lembaga independen dan meningkatkan transparansi dalam proses politik juga sangat diperlukan.

Dalam kajian kuliah umum tematik berbasis mata kuliah politik, mahasiswa menggali persoalan hegemoni politik struktural di era otonomi daerah. Diskusi dipicu oleh pertanyaan beberapa mahasiswa, yang bertanya mengapa dominasi kekuasaan masih ada meskipun demokrasi yang dianut egaliter. Dosen narasumber, Dr. Aji Deni, M.Si, menjelaskan bahwa demokrasi tidak selalu menjamin kesetaraan jika kekuasaan tetap dikuasai oleh kelompok oligarkis dan politik pragmatis. Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya peran masyarakat sipil dalam menghadapi dominasi politik oleh kelompok oligarkis dan perlu adanya langkah konkret seperti peningkatan transparansi, keadilan distribusi sumber daya politik, dan perkuatan lembaga pengawasan untuk mencapai demokrasi yang substansial dan inklusif. Dengan demikian, kajian tersebut menggarisbawahi pentingnya refleksi kritis terhadap struktur politik yang ada demi mewujudkan demokrasi yang lebih inklusif dan adil. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini