Petuah di Ujung Nafas Ayah, Jalan Panjang Seorang Ketua RT

Jufri Misbah.

“Jaga perasaan orang, dan jangan ambil kepunyaan orang lain.”

Kalimat itu meluncur pelan dari bibir ayahnya, di ambang maut. Sejak hari itu, kata-kata tersebut bersemayam dalam kepala Jufri Misbah, menjadi kompas yang menuntunnya menempuh hidup.

Ia mengingatnya bukan sebagai nasihat biasa, melainkan warisan terakhir yang menuntut ditegakkan, apa pun risikonya.

Masa muda Jufri jauh dari harapan, teladan. Remaja nakal yang akrab dengan minuman alkohol kala itu. Tapi petuah sang ayah mencabuk kesadarannya: hidup bukan sekadar tentang diri sendiri.

Perlahan, kebiasaan buruk ia hempaskan. Jufri belajar merasa cukup saat bisa berbuat baik tanpa pamrih dan hadir ketika orang lain membutuhkan jalan keluar. Sikap itu tumbuh jauh sebelum warga mempercayainya sebagai Ketua RT.

Jufri lahir di Ternate, 5 Oktober 1979, dari pasangan Misbah H. Wahab dan Hasna Djafar. Ayahnya dikenal sebagai tokoh agama, pernah menjadi barisan imam Masjid Sultan Ternate pada era 1970-an. Dari rumah itulah, nilai-nilai keagamaan dan tanggung jawab sosial mula-mula bersemi, kendati sempat terabaikan di masa mudanya.

Sejak 2021, ketika ia diangkat sebagai Ketua RT 12 Kelurahan Sasa, Ternate Selatan, sebagian besar hidupnya ia abdikan untuk urusan warga. Di lingkungan ini berdiri puluhan rumah kos dan potensi kenakalan kerap muncul.

Bila malam larut dan keributan terjadi, Jufri tak menunggu pagi. Ia turun langsung, menyelesaikan persoalan di tempat. Minuman keras tak punya ruang di RT 12. Jika diketahui, Jufri mengajak remaja masjid bertindak. Awalnya dengan pendekatan halus. Namun bila membandel, ketegasan berbicara.

Bagi Jufri, ketertiban bukan soal keras atau lunak, melainkan tanggung jawab menjaga ruang hidup bersama yang damai.

Ia tak hanya menertibkan, tapi juga membangun. Sebuah panggung didirikan, menjadi ruang bagi kegiatan keagamaan dan sosial. Beberapa hari lalu, panggung itu resmi digunakan dalam peringatan Isra Mikraj sekaligus pelantikan pengurus Majelis Taklim Kelurahan Sasa Induk dan RT 12.

Tak berhenti di situ. Bersama warga, suami Musna Kader ini menggandeng Dinas Perhubungan Kota Ternate, memasang lampu jalan di hampir seluruh lorong. Lingkungan kini terang. “Tujuannya menutup ruang gelap untuk kenakalan remaja,” ujarnya singkat.

Ia juga menggagas kegiatan kurban. Setiap tahun, warga RT 12 berkurban sapi jumlahnya tak pernah kurang dari satu, kadang mencapai enam ekor. Kebersamaan dirawat, bukan hanya saat hari besar, melainkan pula dalam kerja-kerja kolektif yang senyap.

Jufri dikenal tak mudah marah, namun tegas. Pendidikan formalnya berhenti di SMA, tapi kepemimpinannya lahir dari kepekaan dan keberanian mengambil sikap.

Ia berbuat baik bukan demi jabatan, melainkan karena dorongan lama: membantu orang lain keluar dari masalah.

Baginya, membangun lingkungan berarti menyiapkan masa depan. Melengkapi sarana prasarana, menciptakan ruang yang aman, menumbuhkan generasi berakhlak dan beradab. Juga memberi tempat bagi pengembangan bakat generasi sejak usia dini.

Tantangan zaman, ia tahu, tak akan kian ringan. Tapi, selama petuah sang ayah di ujung nafas itu masih ia pegang, langkahnya tetap lurus.(**)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi Pojoklima.com.