Wisata Ilmiah: Tadabur Alam di Pantai Kastela

M Irsyad PojokLima
Aji Deni bersama teman seperjuangan di pantai Kastela

Oleh: Aji Deni

Pagi itu kami memulai perjalanan menuju pinggiran Pantai Kastela dengan hati yang penuh harap, meskipun bayang-bayang kekelaman tak henti mengintai. Matahari baru saja terbit, sinarnya yang hangat menyapa kami.

Langit cerah membentang luas tanpa noda awan kelabu, hanya dihiasi beberapa awan putih yang melayang lembut, seperti kapas yang terapung di udara sejuk. Kami menamakan perjalanan ini sebagai wisata ilmiah, tadabbur alam, sebuah usaha untuk merenungi keajaiban ciptaan Tuhan di Pantai Kastela yang indah.

Setiap detik di sini terasa seperti undangan untuk mendalami makna kehidupan, mengajak kami sekadar merenung dan bersyukur atas keindahan dunia yang sering terlewatkan. Namun, di balik keindahan ini hati kami diliputi rasa perih dan pedih. Udara segar pantai seakan-akan menghembuskan ingatan akan kerinduan dan kehilangan. Seiring dengan langkah kaki kami di pasir hitam kelam yang halus, terbayang wajah-wajah yang telah pergi, tersapu oleh gelombang kehidupan yang tak terduga.

Di kejauhan, burung-burung berkicau riang, menciptakan melodi alami yang indah. Mereka terbang berkelompok, menari di atas ombak yang lembut. Suara kicauan burung-burung ini seakan-akan menjadi musik pengiring perjalanan kami, melengkapi suasana damai dan harmoni alam.

Anak-anak tampak bermain dan berenang dengan riang di tepi pantai. Tawa mereka bergema, menyatu dengan suara ombak yang memecah pantai. Mereka membangun istana pasir, berlari-lari mengejar ombak yang datang. Sesekali menyelam ke dalam air yang jernih. Keceriaan mereka menambah keindahan suasana, membuat hati kami ikut bergetar bahagia.

Di tengah individualisme dan pragmatisme yang semakin menguat, persahabatan adalah karunia yang tak ternilai. Saat spiritualitas memudar di tengah cerobong asap polusi dan kesedihan atas nama terenggutnya kemanusiaan, kami menemukan kembali sentuhan kemanusiaan di sini, di Pantai Kastela.

Kemudian, di bawah sinar matahari yang kian terik, kami merasakan panggilan heroik dalam dada. Di tepi peradaban yang tak lagi hadir menyentuh denyut keringat dari kulit yang kusam dan terbakar terik amarah politik, kami menyadari bahwa kami adalah pejuang. Pejuang yang berjuang melawan lupa. Pejuang  yang berusaha mengingat kembali nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin dingin dan keras. Kami merasakan semangat yang berapi-api, sebuah tekad untuk tidak menyerah meski dunia seolah-olah menolak harapan.

Kami duduk di tepi pantai, menikmati setiap detik keindahan yang terhampar di depan mata. Keheningan yang tercipta hanya sesekali dipecahkan oleh suara ombak dan burung-burung. Hati kami terasa begitu damai, seolah-olah segala beban hilang terbawa angin laut yang sepoi-sepoi. Keindahan qalbu kami bergetar, meresapi setiap momen keajaiban alam ini.

Saat matahari mulai condong ke barat, kami merenungi hakikat dari perjalanan ini. Kami yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menghayati bahwa berada di IMM adalah keteguhan dan kemuliaan. Berada di IMM adalah bersaudara dalam satu ikatan, seperti deretan shaf bebatuan abadi yang terangkai dalam ikatan lautan manusia. Kami adalah satu, teguh berdiri menghadapi gelombang tantangan zaman.

Berada di IMM berarti memiliki keberanian untuk berdiri di garis depan, memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah kebisingan pasar hitam yang legam dan diam. Kami adalah sinar harapan yang menyala, tak pernah padam, meski angin topan menerjang. Kami adalah obor yang menerangi kegelapan, memberikan kehangatan dan cahaya bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Di Pantai Kastela ini, kami merasakan semangat yang membara dalam dada. Persahabatan yang terjalin di antara kami adalah bukti nyata bahwa kita tidak pernah sendiri. Kami bersama, berjuang bersama dan bersaudara dalam ikatan. Bersama-sama kami membentuk shaf bebatuan abadi, kuat dan kokoh, tak tergoyahkan oleh apapun. Kami adalah IMM, ikatan yang terjalin erat, tak terpisahkan oleh jarak dan waktu.

Saat kami beranjak pergi, kami tahu bahwa perjalanan ini bukan sekadar tadabbur alam, melainkan sebuah perenungan mendalam tentang arti hidup, persahabatan dan kemanusiaan. Semoga berkah rahmat Ilahi melimpahi perjuangan kami. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ikhlas beramal dan bakti. Gemilang sinar surya menyinari fajar harapan.

Jayalah IMM jaya abadi, perjuangan kami. Di tengah dunia yang semakin kelam, kami tetap berjuang, membawa cahaya harapan dan semangat yang tak pernah padam. Kami adalah IMM dan bersama-sama kami akan terus melangkah maju, menorehkan jejak kemuliaan di setiap langkah kami.

Hari Ahad, Maret 1997

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini